magang ohh magang
Lega,
seneng dan pasti berkata “finally !!” dengan sedikit menjerit. Ya begitu lah
gambaran mahasiswa yang akhirnya diterima magang oleh instansi. Setelah
perjuangan yang teramat membosankan, seperti menunggu misalnya. Duduk di ruang
tunggu kantoran, yang lamanya tak bisa diprediksi. Kadang petugas yang kita
mintai tolong untuk menyampaikan keinginan untuk magang dengan ringan berkata
“tunggu sebentar yaa!” dan berlalu begitu saja. setengah jam kemudian datang
lagi “di tunggu sebentar yaa, masih ada tamu”. Ya karena butuh mau gimana lagi,
sejam dua jam memang harus di anggap sebentar.
Lalu
masalah membuat proposal. 12 proposal sudah diketik untuk dipersembahkan ke
instansi/ perusahaan target – biasanya instansi besar. Pas mau ngeprint ternyata tinta habis. Dari pada
beli katrit yang harganya selangit,
kalau belum dapat kiriman masih lebih ngirit pakai jasa print di tempat fotokopian. Nah ini yang lebih membosankan lagi,
minta tanda tangan dosen. Udah ketemunya susah banget, pas tinggal tanda tangan
aja pakai acara di-revisi segala.
Satu
minggu kemudian…..
Urusan
proposal sama kampus sudah kelar, dosen sudah perkenan tanda tangan. Lalu
langkah selanjutannya menuju misi merayu boss-boss HRD dengan alat ampuh
(semoga) proposal. Jawabannya sang HRD ada yang
“penuh”
Ada yang “ harus setengah taun magang di
instansi ini”
Ada yang “sudah terlambat kemarin baru saja
ada yang magang dari univ sebelah”
Ada yang
“ harus diantar dosen”
Ada yang
“harus ke kantor pusatnya dulu, sana ke ibu kota”
Ada yang
“kalau mau magang mengajukan proposalnya satu taun sebelumnya”
Yaaaa dan
masih banyak lagi jawaban miris HRD sebelum pada akhirnya ada HRD instansi
kecil bicara “saudara boleh melakukan magang di instansi kami”
Sebenarnya
magang itu pekerjaan yang mudah,tapi cari tempat yang bersedia menerima magang
itu yang teramat menyedihkan. Menurutku pasti ada beberapa instansi/perusahaan
yang berpikiran harus memberi gaji mahasiswa magang. Padahal sama sekali tidak
ada keuntungan untuk instansi/perusahaan. Bagaimana mungkin waktu magang yang
hanya tiga bulan itu mahasiswa bisa memberikan kontribusi menyelesaikan
pekerjaan. Untuk melepaskan karyawan training siap bekerja sendiri saja bisa
butuh waktu dua bulan. Masalah lagi seperti mahasiswa magang hanya akan
mengganggu karyawan yang bekerja. Karena karyawan harus mengajari orang yang -ketika
orang itu sudah bisa akan pergi begitu saja. sia-sia bukan? Karyawan pasti
lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaan temannya.
Baiklah,
dengan begitu untuk mahasiswa yang akan magang. Sebelum menyusun proposal,
lebih baik melakukan konfirmasi dulu ke instansi/perusahaan target. Dan hal itu harus dilakukan minimal tiga
bulan sebelum magang. Biasanya instansi/perusahaan besar yang ditargetkan itu
juga menjadi target banyak mahasiswa, so dari pada ada risiko antri panjang dan
kemungkinan besar sudah penuh, mending jauh-jauh hari buat ngebuking tempat untuk magang.
Dan dari
pengalaman pengajuan magang aku, berikut rekomendasi tempat-tempat untuk magang
di Yogyakarta:
Ø Penerbitan
dan percetakan kanisius (bisa magang 1bulan, pengajuan bisa 1bulan sebelumnya)
Ø Penerbitan
Erlangga (minimal magang 3 bulan, pengajuan bisa 1bulan sebelumya)
Ø KPP
pratama Bantul dan sleman, mungkin yang lain juga menerima. (bisa magang
1bulan, tapi pengajuan min 3 bulan sebelumnya, soalnya antri panjaaannnggg).
Ø BMT-BMT
di seluruh jogja (bisa magang 1bulan, tapi antrinya panjang juga, hanya
menerima 8 mahasiswa disebarkan diseluruh cabang)
Ø BRI, BPD
(pendaftaran di kantor pusat, cabang tidak menerima)
Ø Dan
hampir semua penerbitan buku di jogja menerima kok, dateng aja ke Gramedia trus
liat alamat penerbit di sampul belakang buku. hihihihiiii
Label: as student

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda